Indo18 - Fsdss-874 Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik Mami Mashiro -
“Lebih dari rasa. Itu tentang ketelitian, kepercayaan, dan… sentuhan pribadi,” ia menjawab, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, sehingga bau harum wasabi dan kecap asin menyentuh kulitku.
Mata kami bertemu, dan dalam sekilas, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa lapar. Ada getaran halus, seolah-olah setiap detik di antara kami mengandung energi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Setelah menikmati beberapa set sushi, kami memesan sake hangat. Gelas kaca berkilau di tangan Mashiro, cahaya lampu menyorot kilauannya. Kami bersulang, “Kanpai!” seru kami serempak.
Aku mengangguk, mengatur perasaan gugup yang berdenyut di perut. “Iya, Mami. Ada tempat sushi yang baru buka di Jalan Kemang. Aku belum sempat coba.”
Dia mengangguk, kemudian mencondongkan kepalanya ke arahku, bibirnya mendekat. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini? Bukan sekadar rasa makanan, tapi rasa yang mengalir dalam setiap detak jantungmu.” “Lebih dari rasa
“Rudi,” bisiknya, “aku selalu memperhatikan kamu. Kamu tampak selalu fokus, tapi ada bagian dirimu yang masih tersembunyi.”
Rasa takut bercampur dengan rasa ingin tahu. Aku mengangguk pelan, membiarkan diriku merasakan ketegangan yang memuncak. Setelah makan, kami memutuskan berjalan-jalan di taman kecil di belakang gedung. Malam sudah mulai menurunkan tirai bintang. Lampu-lampu jalan yang temaram menciptakan bayangan yang menari di antara dedaunan.
Dia menurunkan gelasnya, menaruhnya di meja dengan hati-hati, lalu melangkah lebih dekat lagi. Tangan Mashiro menutupi tanganku, mengalirkan kehangatan yang menenangkan. “Jika kamu mau, kita bisa membuka bagian itu bersama,” katanya dengan suara rendah namun tegas. Ada getaran halus, seolah-olah setiap detik di antara
Aku menatapnya, hati berdegup kencang. “Aku… kadang merasa terjebak antara pekerjaan dan… perasaan yang tidak jelas.”
Mashiro menuntun langkahku ke sebuah bangku kayu yang menghadap ke kolam kecil. Kami duduk, saling berhadapan, menatap air yang berkilau. Suara gemericik air menambah keheningan yang hangat.
Sake menetes perlahan di tenggorokanku, menghangatkan tubuh. Mashiro mencondongkan gelasnya sedikit lebih dekat, hampir menyentuh bibirku. Aku merasakan getaran ringan pada bibirku yang hampir bersentuhan. Kami bersulang, “Kanpai
“Aku suka cara kamu memandang dunia,” katanya sambil menatapku. “Kamu selalu mencari logika di setiap detail, bahkan di hati sendiri.”
Mami Mashiro bukan sekadar “teman kerja cantik”. Dia adalah sosok yang memancarkan aura kehangatan dan misteri. Tingginya 170 cm, rambut hitam panjangnya selalu dibiarkan tergerai, dan mata cokelatnya seolah menembus tiap keraguan yang melintas di hati. Di kantor, dia dikenal sebagai “Mami” karena sifatnya yang peduli, selalu mengingatkan kami untuk istirahat, dan tak jarang menyiapkan kue untuk tim.
Aku menatapnya, melihat kejujuran yang mengalir di matanya. “Terima kasih, Mami. Aku rasa… ini adalah awal baru bagiku.”