BACK
ABOUT ME

Chris Cosentino is a 3D Generalist, Writer, Animator, Illustrator, and sometimes Actor, with a penchant for talking about himself in the third person.

He’s made a multitude of short form content for a variety of mediums (some of which can be viewed in the Socials tab (press back and click on the phone (hey, brackets within brackets: neat!)))

He currently lives in the UK with his breathtaking partner and in his free time he enjoys TCG’s, watching cartoons, and electrocuting patchwork corpses in his laboratory so that he might one day create new life and elevate mankind into Godhood (only kidding: he has no free time, for he is an animator).

Inexplicably still wanna work with me or just fancy a chat? Here’s my work email:

chris@blackandwhitecomic.com
SOCIALS

  Chris@BlackAndWhiteComic.com
  instagram BlackAndWhiteComicDotCom
  linkedin in/cpcosentino
  YouTube @BlackAndWhiteComicDotCom
PROJECTS

Naskah Drama Malin Kundang 4 Orang -

Bertahun-tahun kemudian, Malin Kundang menjadi saudagar kaya raya. Ia memiliki kapal besar dan istri cantik bernama Siti. Sayangnya, kesuksesan membuatnya lupa diri.

Babak 2: Kesuksesan dan Kesombongan (Suasana: Kapal mewah bersandar di pelabuhan. Malin sekarang berpakaian rapi dan mewah. Siti, istrinya, berdiri di sampingnya dengan angkuh.)

Nak... akhirnya Ibu bertemu denganmu. Ibu tahu kau pasti kembali.

(Membuka pelukan) Malin janji, Bu. Apapun yang terjadi, Malin tidak akan pernah melupakan Ibu. naskah drama malin kundang 4 orang

(Menyela dengan sinis) Dasar perempuan tua gila. Suamiku adalah saudagar terpandang. Mana mungkin ibunya seperti pengemis jalanan.

Ibu akan berdoa setiap hari. Pulanglah, Nak. Jangan lupakan Ibu.

(Berdoa dengan suara parau) Ya Allah... jika dia benar anakku, maafkan dia. Tapi jika dia tega pada ibunya... tunjukkan keadilan-Mu. Babak 2: Kesuksesan dan Kesombongan (Suasana: Kapal mewah

(Menangis histeris) Ibu! Ibu! Maafkan Malin! Malin salah! TOLONG... IBU...

Tuhan murka melihat kedurhakaan Malin. Langit yang cerah berubah menjadi gelap dalam sekejap. Badai dahsyat menghantam kapal Malin.

(Melihat desa kumuh) Malin, sungguh mengapa kita singgah di pelabuhan yang menyedihkan ini? Aroma amis ikan membuatku mual. akhirnya Ibu bertemu denganmu

Di sebuah desa nelayan, hiduplah seorang pemuda bernama Malin Kundang bersama ibunya, Mande Rubayah. Kemiskinan membuat Malin bertekad untuk merantau ke kota.

(Kaget) Apa? Malin, ini Ibu, Mande Rubayah. Lihat, ini tahi lalat di tanganmu! Kau lahir dari perut Ibu!

(Berusaha mengendalikan kemudi) Tenang, Siti! Ini hanya badai biasa!