Saat Yumino menurunkan napas, tubuhnya menggelisah dengan gelombang kehangatan. Pijatan semakin intens, dan rasa nyaman berubah menjadi gelombang kenikmatan yang tak bisa ia kendalikan.
Rimu tersenyum, “Kadang, sebuah sentuhan dapat mengubah cara kita merasakan diri sendiri.” Yumino menggigit bibirnya, menahan suara yang hampir keluar
Rimu menambahkan gerakan memutar pada pergelangan tangan, mengalirkan tekanan ke arah punggung bawah. Yumino menggigit bibirnya, menahan suara yang hampir keluar. Ia tidak pernah merasakan sensasi yang begitu memancar—seakan setiap otot bergetar bersama dengannya. Ketika Rimu memindahkan tangannya ke bahu kanan dan menekannya dengan lembut, Yumino merasa tubuhnya bergetar lebih kuat. “Kita hampir mencapai puncak,” ujar Rimu, suaranya lebih dalam, hampir seperti mantra. “Kita hampir mencapai puncak,” ujar Rimu, suaranya lebih
“Tidak,” balas Yumino, suaranya serak oleh napas yang dalam. “Saya rasa… semua terasa luar biasa.” Rimu menurunkan tangannya ke area punggung bagian bawah, menekan dengan lembut namun pasti pada titik-titik yang biasanya sulit diakses. Yumino merasakan sensasi mengalir seperti listrik kecil yang menembus setiap serabut otot. “Kita hampir mencapai puncak